MAKASSAR — Ketua BPW Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan, Hasbi Syamsu Ali, mengajak perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Luwu Raya untuk ikut ambil bagian dalam perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Ajakan tersebut disampaikan dalam momentum Halalbihalal Wija to Luwu (WTL) 2026 yang dirangkaikan dengan Dzikir Akbar peringatan Hari Perjuangan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80, di Gedung Graha Pena Makassar, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Hasbi, keterlibatan dunia usaha menjadi penting karena perusahaan-perusahaan tersebut telah lama beroperasi dan memanfaatkan potensi sumber daya alam di wilayah Luwu Raya.
“Perusahaan-perusahaan besar di Luwu Raya kami ajak untuk ikut berkontribusi dalam perjuangan ini. Ini bukan hanya kepentingan masyarakat, tetapi juga akan berdampak pada iklim usaha ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, masyarakat Luwu Raya telah lebih dulu menunjukkan komitmennya melalui semangat curun-curun atau gotong royong dalam mendukung berbagai agenda perjuangan, termasuk pelaksanaan Halalbihalal tahun ini yang sepenuhnya dibiayai secara swadaya.

Kegiatan tersebut tidak melibatkan dukungan perusahaan besar seperti PT Vale Indonesia Tbk, Masmindo Dwi Area, maupun Bumi Mineral Sulawesi.
“Curun-curun ini menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki kekuatan dan solidaritas. Namun untuk mempercepat terwujudnya Provinsi Luwu Raya, dibutuhkan kolaborasi yang lebih luas,” tegasnya.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 16.30 WITA dan dihadiri sekitar 500 peserta tersebut menjadi ajang konsolidasi penting bagi Wija to Luwu dalam menyatukan langkah perjuangan.
“Ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga ruang menyatukan komitmen bersama dalam mendorong pembentukan provinsi,” lanjut Hasbi.
Ketua panitia, Ahmad Huzaen, menyebut antusiasme peserta yang bertahan hingga akhir kegiatan mencerminkan kuatnya ikatan emosional masyarakat Luwu Raya.
“Peserta mengikuti seluruh rangkaian acara dari pagi hingga sore. Ini menunjukkan kebersamaan yang masih sangat kuat,” katanya.
Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi arah perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Dalam kesempatan tersebut turut disosialisasikan Program Serbu Luwu Raya, yakni gerakan donasi publik guna memperkuat pembiayaan perjuangan pemekaran.

Pada rangkaian acara, tim Universitas Andi Djemma Palopo menyerahkan naskah akademik pembentukan Provinsi Luwu Raya kepada Ketua Badan Pekerja Pemekaran (BPP) DOB Luwu Raya, Darwis Ismail.
Rektor Unanda, Anas Boceng, menjelaskan bahwa dokumen setebal hampir 700 halaman tersebut merupakan hasil kajian komprehensif yang melibatkan sekitar 20 akademisi selama empat bulan.
“Dokumen ini menjadi landasan penting dalam mendorong pembentukan Provinsi Luwu Raya, sekaligus membuka berbagai opsi pendekatan sesuai regulasi nasional,” jelasnya.
Diskusi tematik bertajuk “Progres dan Tantangan Pembentukan Provinsi Luwu Raya” turut digelar dan dipandu Udhi Syahruddin Hamun, dengan menghadirkan narasumber seperti akademisi Hasrullah dan Abdul Rahman Nur.

Dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya merupakan langkah strategis untuk mendorong pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta percepatan kesejahteraan masyarakat.
Dengan potensi sumber daya alam yang besar, mulai dari sektor kelautan, kehutanan, hingga energi, Luwu Raya dinilai memiliki kapasitas kuat untuk berdiri sebagai provinsi mandiri.
Melalui momentum ini, KKLR Sulsel berharap keterlibatan aktif perusahaan besar dapat menjadi penguat dalam mempercepat terwujudnya Provinsi Luwu Raya. (*)






