MASAMBA – Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis pengolahan limbah kelapa sawit untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan saat membuka Workshop Hilirisasi Limbah Sawit Skala UMKM di Aula Lagaligo, Luwu Utara, Kamis (8/10/2026).
Andi Rahim yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI) mengatakan, daerah penghasil sawit memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor hilir.
Menurutnya, pemanfaatan sawit tidak seharusnya berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi perlu diperluas hingga menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi.
“Kita tidak ingin sawit hanya berhenti sebagai bahan mentah. Limbahnya pun harus kita lihat sebagai peluang ekonomi. Bagaimana limbah ini bisa diolah, menjadi produk, kemudian menjadi usaha dan memberikan pendapatan bagi masyarakat,” ujar Andi Rahim.
Berdasarkan data 2025 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, luas perkebunan kelapa sawit di Luwu Utara mencapai sekitar 32.067 hektare, dengan produksi sekitar 496.033 ton per tahun.
Besarnya produksi itu juga menghasilkan berbagai jenis limbah yang berpotensi dimanfaatkan, mulai dari tandan kosong, pelepah, cangkang, lidi hingga limbah cair.
Tandan kosong, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk organik. Cangkang sawit berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar biomassa dan briket, sedangkan limbah cair dapat dikembangkan menjadi biogas. Adapun pelepah dan lidi dapat diolah menjadi produk kerajinan maupun kebutuhan rumah tangga.
“Jangan melihat limbah sebagai sesuatu yang tidak berguna. Di dalam limbah ada peluang. Tinggal bagaimana kita mengolahnya dengan inovasi, teknologi dan kreativitas,” tegasnya.
UMKM Didorong Menghasilkan Produk Bernilai Tambah
Andi Rahim meminta pelaku UMKM mulai beralih dari sekadar menjual bahan mentah menuju produksi barang jadi yang memiliki kualitas, kemasan, standar, dan daya saing.
Ia optimistis produk olahan limbah sawit dapat menjangkau pasar yang lebih luas apabila dikembangkan secara serius, termasuk pasar nasional dan ekspor.
“Kalau produknya bagus, kualitasnya baik dan kemasannya menarik, pasarnya bukan hanya di Luwu Utara. Kita ingin produk UMKM kita bisa masuk pasar nasional, bahkan pasar ekspor,” katanya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara akan memperkuat kolaborasi dengan empat pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di daerah itu, akademisi, asosiasi petani, pelaku UMKM, serta perangkat daerah terkait.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku, transfer teknologi, pengembangan produk, peningkatan kapasitas pelaku UMKM, hingga perluasan akses pasar.
“Kita ingin membangun ekosistem. Pemerintah memberikan dukungan, industri menyediakan bahan baku dan membuka kemitraan, akademisi memberikan inovasi dan teknologi, sementara UMKM mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” jelasnya.
Dari Limbah Menjadi Sumber Pendapatan Baru
Menurut Andi Rahim, posisi Luwu Utara sebagai salah satu daerah penghasil sawit menjadi peluang untuk mengembangkan hilirisasi berbasis masyarakat. Karena itu, ia berharap workshop tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut pada lahirnya produk dan usaha baru yang memanfaatkan limbah sawit.
“Target kita sederhana. Limbah sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal harus bisa menjadi sumber pendapatan baru. Dari limbah menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dan dari usaha menjadi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Melalui hilirisasi berbasis UMKM, Pemkab Luwu Utara berharap sektor kelapa sawit tidak hanya berkontribusi sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri pengolahan, memperluas peluang usaha, memperkuat UMKM, dan meningkatkan nilai ekonomi daerah. (*)





