MASAMBA — Pemerintah Kabupaten Luwu Utara memperkuat langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul sebaran asap yang menyelimuti wilayah Masamba dan menyebabkan penurunan jarak pandang dalam sepekan terakhir.
Wakil Bupati Luwu Utara, Jumail Mappile, memimpin rapat koordinasi penanganan dampak karhutla di Ruang Rapat Command Center, Kamis (15/10/2026).
Pertemuan tersebut membahas penguatan pencegahan, pemetaan wilayah rawan kebakaran, serta antisipasi dampak sebaran asap terhadap kesehatan masyarakat dan keselamatan transportasi udara.
Dalam rapat itu, Jumail menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, pendataan titik rawan kebakaran, dan edukasi kepada masyarakat untuk mencegah munculnya titik api baru.
Ia secara khusus meminta petani tidak membakar jerami maupun lahan, terutama di tengah kondisi kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.
Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian diharapkan aktif meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan serta mendorong langkah pencegahan sejak dini.
Jumail juga meminta setiap pihak menyepakati langkah prioritas berdasarkan tingkat kerawanan di wilayah masing-masing agar penanganan karhutla berjalan lebih efektif.
BMKG Indikasikan Asap Bukan Sekadar Kabut Embun
Dalam rapat tersebut, BMKG mengungkapkan bahwa penurunan jarak pandang di Masamba selama sepekan terakhir terindikasi berkaitan dengan sebaran asap, bukan semata-mata kabut embun.
Kondisi tersebut dilaporkan masih bertahan hingga pukul 09.00–10.00 WITA.
BMKG juga mengingatkan bahwa fenomena El Niño berpotensi memperkuat kondisi kemarau sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.
Selain itu, sebaran asap yang menyelimuti Masamba dipengaruhi pergerakan angin yang membawa asap dari wilayah lain, termasuk Papua Selatan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat, mengurangi jarak pandang, dan berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan.
Koordinasi dengan Bandara dan Operator Penerbangan
Untuk mengantisipasi risiko terhadap keselamatan penerbangan, BMKG telah berkoordinasi dengan pengelola Bandara Andi Jemma, Bandara Seko, Bandara Rampi, serta operator penerbangan Susi Air.
Koordinasi ini diperlukan untuk mendukung pemantauan kondisi atmosfer dan pertukaran informasi terkait jarak pandang di wilayah yang terdampak sebaran asap.
Pemkab Luwu Utara juga mendorong penguatan pemantauan lapangan, pertukaran informasi antarlembaga, serta edukasi kepada masyarakat agar upaya pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan secara terpadu.
Jumail berharap sinergi seluruh pemangku kepentingan mampu menghasilkan langkah konkret untuk menekan risiko kebakaran, melindungi kesehatan masyarakat, dan menjaga keselamatan transportasi udara.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV Makassar, Danyon, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala BMKG Luwu Utara, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Kepala Pos SAR Basarnas, unsur BNPB, serta para camat. (*)





